Wednesday, July 5, 2017

Bikin SIM dapet Nembak. AWKWARD BANGET !




Bulan Maret lalu gue baru aja ulang tahun ke yang 17 tahun, itu artinya gue udah mulai dewasa sedikit demi sedikit. Secara hukum gue udah senang sudah legal melakukan hal 17+. Gue bukan seneng karena boleh beli rokok di indomaret, beli bir bintang, atau beli kondom, tapi gue paling seneng udah sah main game GTA V dan nonton film The Raid di XXI. Sebagai warga negara yang selalu taat pada hukum dan diakui oleh negara Indonesia, gue bikin KTP di kelurahan gue. beberapa lama kemudian jadilah KTP sementara gue yang berbentuk kertas (Blangkonya belum jadi, masih lama karena kasus korupsi e-ktp). Tapi walaupun masih sementara, KTP ini bisa digunakan untuk bikin SIM.

Gue mau buru-buru bikin SIM, soalnya selama ini gue tuh males banget kalo naik motor atribut gue udah lengkap kaya helm dipake, spion lengkap, lampu dinyalain, patuhi peraturan lalu lintas, tapi giliran razia gue diciduk gara-gara gak punya SIM. Kayak waktu itu gue habis dari Grand Metropolitan Mall menuju ke arah Summarecon Bekasi lewat jalan Ahmad yani. Bagi lo yang belum tau, jalan di situ ada 2 jalur coy, jalur lambat di kiri dan jalur cepat di kanan. Secara gue mau menuju Summarecon, gue ambil jalur cepat lha, karena kalo jalur lambat nanti gue harus pindah jalur atau gak lewat stasiun. 

Namun nasib sial menimpa gue. Saat itu ada polisi yang nyetop gue, motor gue disuruh berhenti di pinggir dan kunci gue dicabut. Pak polisi menjelaskan ternyata sepeda motor dilarang lewat jalur cepat (Sumpah, gue baru tau). Lalu pak Polisi minta STNK dan SIM. Waktu itu gue masih 16 tahun, belum punya SIM. Gue kasih aja STNK gue trus bilang, "Ini pak ada STNK, tapi saya belum punya SIM"

Pak Polisi menjawab dengan gaya menggerutu, "Ya ampunnnn, adek", seakan-akan gue ini pemuda yang kepergok lagi mesum di kuburan dan siap dicambuki warga. Sial banget gue. gue disuruh bayar duit 250 rb ke polisi (Tolol banget kan gue, mau-mau aja bayar uang damai gede banget).

Maka dari itu gue memutuskan untuk segera membuat SIM. Bikin SIM ada 2 cara coy, ada yang sesuai prosedur yaitu mengisi formulir, difoto, tes tulis, lalu tes praktek. Tapi ada juga cara yang lebih praktis yang dikenal dengan istilah nembak. Nembak ini lo cukup gak perlu ikut tes, ibarat formulir lo ini udah dapet free pass dan siap dibikin kartu tanpa hambatan. Tapi jelas, cara nembak ini memerlukan biaya yang cukup besar. Kebetulan gue punya om yang orang pinter, eh maksudnya orang dalem...... jadi dia di dalem kamar mulu, gak pernah keluar rumah hahaha.

Krik. Krik...... 

Pada hari kamis, gue udah janjian dengan om gue di depan polres kota, tepatnya di indomaret. Gue ke sana naik motor, parkir di dalem penitipan motor sekitar polres. Jalan dari penitipan motor sampe polres, buset Banyak banget akang-akang yang nawarin jasa nembak SIM. Makin jauh gue jalan, kalimat yang tadinya halus semakin memaksa.

"Mas ? Mau bikin sim ya? Udah sama saya aja, murah kok!"
"Situ pasti mau bikin sim, mending di saya, mas!"
"Sini, mas, bikin sim sama saya!" 
"Mas, Ada urusan apa ke polres? Ohh kemarin rumahnya abis kena rampok ya.....? Ngurusin kasus kejahatan mah lama pak prosesnya, mending ngurus SIM aja ke saya, siang langsung jadi deh!" (Gak nyambung)

Ditawarin di sepanjang jalan gini persis suananya kayak di gang dolly, coy. bedanya kalo di dolly yang nawarin cabe-cabean rok mini di dalem etalase. Kalo deket polres, yang menawarkan adalah akang-akang jenggot kambing dengan celana cutbray.

Dengan sabarnya gue berjalan ke polres sambil menolak calo-calo dengan senyuman manis. Gue tunggu di indomaret, sesuai janji dengan om gue. Tiba-tiba om gue muncul dari gang, "Sini san, ikutin om" ujarnya. 

Gue dibawa menyusuri gang. Widih, ekspektasi gue tinggi banget, berharap bahwa cara nembak sim ini bakalan kayak transaksi narkoba di film-film yang terjadi antara 2 orang di gang sempit nan gelap. Misalkan ada pemuda ceking mata merah yang membawa koper berisikan uang. Di bawah lampu gang yang  pudar, ia bertanya pada sosok pria berpakaian serba hitam, "Gimana ? Stok yang gue pesen ada? Ini uang yang gue janjikan.". Dengan cepat pria berkacamata hitam menerima koper, dan berkata, "Santai, STNK lo seberat 300 gram udah jadi." Wajah lelaki itu tersenyum puas.  Lalu lelaki itu mendekatkan diri ke lelaki bertubuh ceking, menaruh SIM ke tangan lelaki ceking, dan berbisik pelan dengan nada mengancam, "Jangan nerobos lampu merah ya, bang! Malu sama kucing... meong, meong, meong."

Ternyata dugaan gue salah. Diujung gang itu terdapat sebuah rumah kecil. Gue dibawa masuk ke dalam rumah itu. Di dalamnya ada sebuah meja dengan seorang mas-mas seperti di customer service. Di dalam sana, gue seperti sedang Dibriefing tentang operasi kejahatan tingkat tinggi. Mas-nya menjelaskan "Ini dibawa berkasnya, nanti kamu masuk masuk lewat ini, lalu bayar administrasi sejumlah sekian, lalu isi formulir, blablablabla. Nah abis itu kalo gatau isian formulir, kamu kosongin aja, gak usah tanya ke siapa-siapa, cukup di-strip. Setelah itu blablabla..." Diakhir obrolan, dia bertanya, "Kamu ngerti?". Di saat ini gue ngerasa deg-degan, gue ngerasa diberi misi penting. Karena gue gak ngerti ya gue cengar-cengir aja. Untung om gue menenangkan, "udah nanti om temenin kok."

Setelah itu gue pergi ke gang samping polres. Di sana rame banget, bray, banyak orang-orang yang berdiri menunggu namanya dipanggil. Sesuai briefing tadi, (Gapapa yak gue nyebutnya briefing, biar keren aja) gue ke loket bank, lalu mengisi formulir yang dikasih. Di kursi tunggu, di bantu om, gue melengkapi data formulir pembuatan SIM A (Mobil) & SIM C (Untuk motor). Gue sampe bolak balik 2 kali karena masih ada data yang kosong. Setelah merasa formulir gue sudah terisi lengkap, gue menyerahkan formulir ke meja depan setelah itu gue duduk kembali sembari menunggu nama gue dipanggil untuk masuk ke ruangan foto. 

Waktu itu rame banget. Gue gak tau hari biasa emang selalu rame, apa hari itu doang yang rame karena bentar lagi lebaran. Mungkin sekitar 2 jam gue menunggu sambil main handphone. Gue duduk di kursi paling pojok dekat jalan, samping gue bapak-bapak kurus yang rutin menghirup inhaler (Obat pilek yang dihirup). Ini orang menghirup inhaler setiap 5 menit. 

Mungkin jaman sekarang ngisep rokok udah gak trend, digantikan oleh lifestyle yang lebih sehat yaitu menghirup inhaler. Kalo dulu kan orang-orang berkenalan gayanya asik, nawarin rokok dengan ramah, "Ngerokok gak, bang? Ini rokok." Trus ngerokok bareng sambil bercakap-cakap tentang pekerjaan. kalo sekarang beda, coy. Mau akrab sama seseorang, nyodorin inhaler bekas hidung sendiri, "Pilek gak, bang? Ini inhaler. Hayu atuh dicoba bareng." Lalu mereka menghirup inhaler secara berganti-gantian sembari mengobrol seputar riwayat penyakit masing-masing, sampe salah satu upil seorang nemplok di ujung inhaler.

Yang paling awkward saat menunggu. Bapak-bapak inhaler tadi dipanggil namanya oleh petugas untuk masuk ke ruangan, mungkin mau perpanjang SIM. Nah karena posisi kursi bapak ini di dalam, dan kursi gue di pojok luar, ini bapak jalan lewatin gue, dong. Pas ngelewatin gue karena sempit banget, Gak sengaja kaki gue nyelengkat kaki si bapak dan bapak itu pun jatuh di depan gue. Gila, awkward banget! Untung inhalernya kagak jatoh. Si bapak dengan malu mencoba berdiri dengan malu dan bergegas masuk ruangan.

Setelah menunggu lama akhirnya nama gue dipanggil. Gue ke meja depan lalu si bapak-bapak yang tugasnya memanggil nama itu berkata pada gue, "Kamu bikin SIM pake KTP sementara yang bentuknya kertas, ya? Kok nama di KTP sama di formulir beda?" Anjrit, gue panik banget. Gimana bisa beda, perasaan gue ngisinya nama lengkap gue dengan benar! Maafkan aku om, aku takut gagal menjalankan operasi nembak SIM. Salah seorang polisi memanggil gue, Beliau memperhatikan formulir dan KTP gue. Ternyata si bapak tadi salah membaca nama. Dia malah ngebaca nama pejabat kecamatan yang ada di KTP sementara gue, dikira itu nama lengkap gue. Yeh si bapak.... Panik sayah.

Lalu gue masuk ke ruangan tunggu. Di sana gue nunggu lagi untuk dipanggil masuk ke ruangan foto. skip skip, setelah gue difoto, gue disuruh untuk menuju ruangan test tertulis yang dilaksanakan pake komputer atau istilah kerennya CBT. Loh kan gue nembak yak, ngapain gue ikut tes tertulis yak. Yaudahlah karena gue awam, gue pergi aja ke ruangan test tertulis yang menyatu dengan ruang tunggu yang tadi. Di sana komputernya banyak, gue bingung duduk di mana, gue tanya posisi duduk pada pak polisi. Lalu polisi itu mengamati berkas gue dan bilang, "udah kamu langsung aja tunggu di luar, nanti nama kamu dipanggil, SIM kamu jadi". Wuih ternyata nembak SIM canggih juga. Hehe...

Yaudah deh, sejaman gue nunggu. Akhirnya kedua SIM gue jadi. yeay, kini gue bebas bekendara ke manapun. Sebelum punya SIM, gue berandai-andai setelah memiliki SIM gue akan touring ke puncak dan ke curug-curug. Setelah SIM gue jadi, gue mikir 2 kali touring karena takut masuk angin dan angin duduk.

Berdasarkan cerita temen gue sih, katanya kalo bikin SIM tanpa nembak itu susah, apalagi kalo bikin SIM C, soalnya gagal mulu di test praktek. Halang rintangnya itu sempit, lo juga harus lihai mengendalikan motor agar tidak tertabrak batas jalur apalagi di tikungan. Temen gue tuh terlalu bersemangat bikin SIM C, sampe ngulang 5 kali. Bapak polisi yang mengetes praktek SIM pun sampe mengenal baik temen gue, silsilah keluarganya, aib-aibnya, takdir qada & qadarnya, timbangan amal baik buruknya, bahkan temen gue hampir diangkat jadi anak adopsi. Atau mungkin setiap ikut tes dia dikasih kupon dan cap, kalo terus mengulang SIM dan mendapat 10 cap, temen gue akan mendapatkan hadiah oreo + beng-beng.

Tapi gue mau nanya nih, setiap daerah itu ada test bikin SIM gak sih? Nanti kalo di daerah terpencil yang fasilitasnya kurang gimana? Terus tes praktek SIM-nya di perkebunan, Nanti penghalang jalurnya bukan pake plang besi tapi pake batu, tracknya berlumpur, dan setiap ada yang mau tes jalurnya dibuat sesuka hati oleh pemohon SIM. Bahkan ngulang test praktek pun maksimal 4 kali, karena bulan depan area test praktek bakalan dibangun perumahan...

Tapi yang paling  aneh, yak.... Katanya kalo mau ikut test paktek SIM boleh bawa motor sendiri. Otomatis kan saat berangkat dari rumah dia bawa motor ke polres tanpa SIM? Emang boleh?


Polisi: Siang, mas. Mau tes pake motor dari sini atau bawa motor sendiri?
Pemohon: Oh Saya bawa motor sendiri kok, pak
Polisi : Loh, kamu bawa motor sendiri ke polres padahal belum punya SIM.
Pemohon : Hehe, piss, brother.......... *Lalu hening*
Polisi : ...... *hening juga*
Pemohon : *tertjidoek*

Saturday, December 3, 2016

Puisi Laknat

Hai guys sorry banget nih gue baru muncul lagi untuk nulis blog gue. Setelah 5 bulan gue gak ngepost, blog gue udah kayak kuburan. Pas gue login, banyak sarang laba-laba. Pas gue ngeklik entry baru, ada kuntilanak lagi nembok. Dan pas gue ngetik, ada jones yang hatinya terluka. Pas gue liat, ternyata jones itu gue sendiri~

Jadi gue baru aja ditunjuk jadi ketua ekskul sastra muehehehe (Bangga), nama ekskulnya adalah kansas yaitu kantin sastra. Gue gak tau kenapa gue bisa terpilih, padahal kemampuan gue di bidang sastra masih 0. Apa coba yang gue bisa ? Bikin puisi ? Salah satu puisi yang gue bisa buat bersama teman adalah puisi berjudul aku

Aku

Karya ibu dan bapakku.

Bikin cerpen? Lo gak inget, waktu SMP gue pernah nulis cerpen dengan tokoh teman gue yang namanya Raihan, lalu tokoh itu adalah tokoh gelandangan, dan si Raihan marah ?

Terserah kenapa kakak-kakak-baik-hati bisa memilih gue, yang jelas gue harus mengemban amanah yang diberikan untuk memajukan ekskul ini. Hal yang paling mengganggu gue adalah omongan dari salah satu guru gue.

Saat itu kami sedang belajar. Pak guru ini sering bercerita tentang keadaan sekolah, tentang anak-anak, ekskul, dan lain-lain. Suatu ketika, pak guru bertanya, "Anak-anak, kalian tau tidak ekskul yang semu itu apa ?"

Anak-anak pun bersorak-sorak menjawab. Ada yang menjawab ekskul 'cinta lingkungan', memasak, perangko, dll. Lalu Pak guru melanjutkan omongannya, "Jadi ekskul ini gaib. jadi kalo misalkan setiap ekskul harus kumpul di kelas, kelas itu kosong. Giliran ekskul itu dibubarkan, anggota ekskul itu tidak terima. Prokernya juga gak jelas".

Semua hening. Memikirkan ekskul apa yang dibicarakan oleh pak guru. Termasuk gue. 

Hmmm, ekskul apa yang semu? Ekskul mannequin challange ? Jadi setiap ngumpul, semua anggota diem aja mematung gitu? Gue gak ngebayangin penilaian ekskul ini. Siapa yang mirip patung beneran, dia yang menang. Saking niatnya, ada anak yang tiduran mulu kayak patung gak bangun-bangun, ternyata dia emang mati. Atau ada patung yang nunjuk mulu, kirain orang, ternyata itu patung pancoran.

Kalo ekskul gaib, apa ya? Setau gue di sekolah ini gak ekskul aliran sesat macem illuminati. Atau ekskul dunia lain. jadi Semua anak latihan jadi hantu, supaya lolos casting jadi figuran di dunia lain. Atau sekedar jaga pohon beringin, dan jadi penjaga lawang sewu. Setiap malam, dia bertugas mengunci semua pintu di lawang sewu. Saat pintu terakhir dikunci, pagi hari tiba. Lalu dia membuka semua pintu lagi ampe mampus dan pindah kerja jadi casper.

Proker gak jelas? Jadi pas liat di agenda, program kerjanya ngeblur gitu? Unik juga.

Karena semua anak tidak dapat menjawab, pak guru menjawabnya "Ekskul itu adalah........


kansas". JENG JENG !!!!!

Anak-anak pun ribut, memecah keheningan di penjuru kelas. Salah satu teman menunjuk gue, "Isan pak, dia anak kansas". Sial, gue jadi bahan tontonan. Pak guru pun memberikan pertanyaan-pertanyaan klasifikasi atas pernyataannya tadi. Gue pun membela ekskul gue.

Padahal kenyataannya gak kayak gitu coy. Mungkin pak guru melihat ekskul ini saat jaman dulu, saat anggota ekskulnya masih pithecantropus erectus yang pertama kali menemukan api, trus digunakan untuk nyebat. (ya maksud gue, nggak jaman purba juga sih). Gue nggak tahu. Mungkin tahun 90-an ekskul ini memang begini, tapi sekarang aktif kok. Emang ekskul ini jarang keliatan, gak kayak ekskul pramuka atau futsal yang latihannya outdoor. Namanya juga sastra, semua kerja di rumah coy. Gak mungkin ada ekskul sastra yang setiap kumpul, baca puisi sambil manjat wall climbing. Gak mungkin.

Sampai akhirnya gue resmi menjadi ketua pun, pak guru masih sering meledek ekskul gue.

Kemarin-kemarin, salah satu teman gue si Amin, yang merupakan anggota OSIS, mengajak gue untuk mengadakan kerja sama. Jadi dia ingin membuat perayaan hari guru yang meriah di sekolah. Nanti akan ada pemutaran video, pembacaan puisi, serta paduan suara. Dia menawarkan ekskul gue untuk membaca puisi. "Ayolah, san. Biar nama ekskul lo bagus di mata guru." Wah bisa juga dia ngejilat gue, sampe-sampe air liurnya pengen gue jadiin obat tradisional, biar gue ngalahin dukun cilik ponari. Katanya, biar ekskul gue cari muka dikit sama guru. Wah bener juga, ini ajang yang tepat untuk menunjukan pada pak guru bahwa ekskul gue dapat memberikan sesuatu untuk sekolah. Muehehehe.

Saat kumpul, gue menawarkan teman ekskul untuk membaca puisi. Terpilihlah 5 orang penyair, 3 cewek dan 2 cowok. Karena gue suka yang instan, gue copy-paste puisi guru dari internet, jadi puisinya gue gabungin, daripada buat terus jelek kan. 

H-1, kita latihan membaca puisi, Diiringi keyboard. Jujur gue gak bisa baca puisi, gue baca puisi itu semampu gue walaupun hasilnya bisa gak dibilang bagus atau jelek, ya standar lah. Teman-teman yang cewe suaranya bagus, keren. Nah temen gue yang namanya tulus ini yang berbeda. Kalau lo belum tau Tulus, coba baca pos gue yang sebelumnya saat gue menjadi pendamping kelompok MOPDB. Dia baca puisi kayak anak SD yang belajar membaca, nadanya pun kocak, tampangnya ngehe lagi. Gue takut, saat baca puisi, guru-guru malah ngetawain dia. Duh gue mau ganti dia sama anggota ekskul yang lain, tapi gak enak sama dianya.

Hari guru pun tiba. Semua guru dikumpulkan di auditorium. Acara pertama diisi dengan pemutaran video dari OSIS, tentang guru di sekolah. Acara kedua, yaitu baca puisi dari ekskul gue. Kami berlima maju ke depan panggung auditorium.
Ada standing mic di depan. Kami membaca puisi satu persatu, dimulai dari gue. Suara gue masih malu-malu, irama nada pun masih biasa aja. Tapi gue berhasil. Lalu yang kedua, si Anay. Dia membaca puisi dengan lumayan bagus. Nahh yang ketiga, si Tulus. Jangan bandingkan dengan Tulus di TV, yang suaranya bagus. Si tulus kita ini persis membaca puisi seperti saat latihan. Lantas guru pun sedikit heboh, membicarakan anak ini. Anak-anak pun ingin tertawa, namun ditahan karena banyak guru. Untungnya orang keempat dan kelima membacakan puisi dengan bagus. Jadi grafiknya tuh naik, trus turun jeblok, lalu naik lagi lebih tinggi. Mungkin panitia SBMPTN pas ngeliat grafik ini, langsung dikencingin, tapi gapapalah. Yang penting akhirnya bagus.

Nah, pas detik terakhir orang ke-5 membaca puisi. Ada kesalahan yang sangat fatal. Larik tersebut bertuliskan.



'Hanya ucapan terakhir dari mulutku
Di hari pendidikan nasional ini
Gempitakanlah selalu jiwamu
wahai pejuang pendidikan Indonesia'

semula gue nggak ngeh. Saat dibacakan, ada guru yang menyadari dan bersorak "Hari guru, bukan hari pendidikan nasional" (btw ini guru atau penonton dangdut ampe sorak-sorak) KADAL BUNTING, GUE BARU NYADAR. Sebagai penyair palsu, gue baru sadar ternyata yang tertulis di naskah bukan hari guru tapi hari pendidikan nasional. Kami semua malu. 

Ini adalah kesalahan kami.
1. Gue asal copy-paste, dan gak memerhatikan.
2. Salah temen gue yang ke-5, karena ini bagian dia, harusnya dia menyadari ada yang salah dengan puisi ini.
3. Salah kami berlima. Karena sejak latihan dan membaca berulang-ulang. GAK ADA YANG NGEH DARI 5 ORANG TERSEBUT.

Anjrit, yang semulanya gue pengin bikin guru bangga dengan ekskul gue, malah gak sesuai ekspektasi.

3 hari berlalu. Siang itu akan ada pelajaran pak guru, gue yakin 100% pasti pak guru akan meledek 2 poin kesalahan baca puisi yang kemarin. Saat pelajaran itu berlangsung, bener aja. Pak guru mengomentari. 

"San, cowok satu lagi yang baca puisi itu namanya siapa? kelas 10 yah?"
"Iya, pak. Namanya Tulus"
"Ohh haha. Pas dia baca puisi, guru-guru pada heboh. Guru samping bapak bilang 'wah ini si Tulus, bintangnya nih' haha"
"Hehe iya pak" Di sini gue gondok banget, kayak kurang iodium. 
"Bapak puisinya lucu, kayak lagi mengeja gitu. Makanya bapak mikir, ini si isan lagi mau bercanda atau gimana."
"Jadi gini, saya tuh baru tau dia baca puisinya kayak gitu pas H-1. Tadinya saya juga mau ganti pembaca, tapi gak enak sama dia"
"Hmm begitu. Harusnya kamu nunjuk beberapa orang lagi, misalnya 7 orang. Nanti diseleksi lagi, terpilih 5 orang, biar si Tulus gak merasa diusir" Pak guru memberikan saran.

Sarannya bagus juga sih. Salah gue banyak, kenapa gue asal-asalan milih orang 'siapa yang mau baca puisi'
'saya ka'
'oke kamu terpilih'

Harusnya gue lebih selektif memilih bibit unggul. Tapi udah berlalu juga, biarlah jadi pelajaran untuk gue kedepan. Setelah gue bercerita tentang kejadian ini ke temen cewek gue, dia memberi saran yang cemerlang. "Emang lo ngetik di google keywordnya apa?", tanya dia.

"Puisi untuk guru"
"Pantesan aja, kunyuk. Harusnya lebih spesifik, kayak 'puisi hari guru'... "

Tapi gue gak menyangka, pak guru gak sadar kalo puisi gue salah menjadi hari pendidikan nasional. Yaudah lah gapapa. Tuh kan, guru aja gak sadar, apalagi gue. Mungkin kalo gue pasrah sampai saat ini mendengar omongan pak guru, bisa-bisa gue memberhentikan ekskul ini, lalu gue ganti menjadi ekskul flip bottle.  

Saturday, August 6, 2016

Pengenalan Ligkungan Cekula

Halo gais, udah lama nih gue gak ngeblog. Maaf banget ya soalnya akhir-akhir ini gue baru naik kelas 11 dan banyak kesibukan. Sampe-sampe gue gak makan, bukan karena gak sempet, tapi di rumah emang gak masak aja sih.

2 minggu yang lalu gue mendapat keberuntungan untuk berpartisipiasi dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di sekolah gue. Awalnya gue ikut seleksi PK. Pas gue ngasih tau Bimo gue ikut seleksi jadi PK, dia kaget, "Lo serius, san jadi PK? Emang lo mau mencabuli kura-kura mana?".

"Yeh, PK itu kepanjangannya Pendamping Kelompok. Gue ngedampingin anak-anak baru selama PLS.", gue menerangkan pada Bimo.

Bimo membalas "Yah, gue gak jadi ikut seleksi PK deh. Gue kira PK itu kepanjangannya Penjahat kelamin".

Menjadi PK itu tidak mudah. Ada berbagai tahap. Yang pertama, gue disuruh nulis essay tentang definisi menarik. Alhamdulillah gue termasuk dari 40 yang lolos. Lalu yang kedua ada tahap wawancara. Yes gue lolos lagi. Gue dapet partner seorang senior yang bernama ka Amanda. Dan Koor gue adalah Irfan, temen sekelas gue. Keberuntungan macam apa ini. Tahap terakhir adalah simulasi. Jeng jeng. Gue sempet nanya ke Kak Rama, PK gue yang dulu, simulasi itu gimana sih? Dengan kemurahan hati dia menjawab dan memberikan tips.

Mendengar kata simulasi gue jadi terpikir divergent. Jadi gue masuk ke sebuah ruangan pake tanktop, trus leher gue disuntik oleh mas-mas ganteng. Pikiran gue berubah. Gue terperangkap di dalam kotak kaca berisi air yang akan menenggelamkan gue. Lalu gue panik dan rileks. Gue sadar ini cuma khayalan, lalu gue mengetuk kaca. Soalnya di kaca nya gak ada bel. Namun kaca itu tidak terbuka, soalnya orang di rumah lagi pada keluar *lah

Ternyata gue salah. Jadi simulasi itu, gue berlagak seperti PK beneran, di kelas yang isinya penuh dengan OSIS yang berpura-pura menjadi anak baru. Sayangnya ka Amanda berhalangan, jadi sementara gue simulasi bersama Agus. 

Tahun ini MOS atau MOPDB dihapus, diganti menjadi PLS. Adat dari tahun sebelumnya pun diubah. Kalian bisa liat post gue yang dulu, waktu gue MOS gue disuruh bikin nametag berbentuk Pegassus (padahal lebih mirip laba-laba berkepala kuda), gue juga disuruh bawa beras buat baksos, dan yang paling mendebarkan adalah Tim Disiplin Kelas. Tahun ini beda banget coy. Dulu dateng jam setengah 6, pulang jam 5 sore. Sekarang dari jam 6 sampai jam setengah 4.

Tau gitu gue nganggur dulu ga daftar SMA setahun biar ga disiksa *eh

Hari kamis, ada pra PLS. anak-anak dikumpulkan di aula lalu dibagi kelompok. Gue dapet kelompok 12. Kelompok yang sama ketika gue dulu MOPDB. nama anak-anaknya disebutin satu persatu, lalu gue muncul, MC-nya ngomong "Yak inilah PK kalian". Mereka ngeliat ka Amanda, trus sujud syukur. Trus ngeliat gue, abis itu nangis. Mereka berbisik "Ya ampun, bisa ganti kelompok gak sih?"

Feeling gue udah bagus. Gue dan kak amanda menggiring anak-anak ke kelas. Lalu Irfan menjelaskan cara membuat nametag dan notes. Gila, ini mah bukan nametag tapi id card. Tau gak id card yang buat orang kantoran, kecil banget pak. Buat 10 menit juga kelar. Dulu tuh ya gue buat pegassus 2 malem, dan warnanya salah. Gue jadi bikin nametag 3 malem begadang.  Mereka 4 hari. Enak banget.

Dari muka-mukanya sih anak baik baik semua.

Hari seninnya, mereka datang membawa nametag dan notes. Di kelas, ada seorang cowok anak baru ngomong ke gue, "kak maaf saya belum bikin nametag soalnya kartonnya masih ada di temen saya. Nanti pas temen saya dateng saya langsung buat. Maaf kak saya orangnya emang kurang disiplin". Lah jujur amet, karena mukanya kayak melas dan meyakinkan gue iya iyain aja.

Ada upacara pembukaan PLS, dengan menerbangkan beberapa balon ijo. Dan sekolah sebelah yaitu MTS nerbangin ratusan balon. Kayak kebanting gitu. 

Selepas upacara ada seminar-seminar dari guru di aula. Sehabis itu kita safari sekolah. Ini nih yang menurut gue paling seru. Anak-anak jadi mengenal sekbid OSIS sekaligus lingkungan sekolah. Ada sekbid yang ramah, garing, gak jelas, ada juga yang tegang.

Setelah capek berkeliling sekolah, anak-anak ishoma trus balik lagi ke kelas. Trus mereka disuruh minta tanda tangan guru setiap mata pelajaran. Lah gue mikir, kan kalo minta tanda tangan senior, seniornya ngumpet dan menyamar, trus suka jail ya nyuruh yang macem-macem. Kalo minta ttd guru gimana? Masa gurunya ngumpet dibalik semak-semak, trus ngumpet dengan menyelam di dalem kolam. Nyuruhnya juga sesuai pelajarannya. Kalo minta ttd ke guru fisika, gurunya bilang "Coba kamu lari 45 derajat ke utara denga vektor 20 m/s." Muridnya gila. 

Videonya menarik semua, apalagi video ekskul gue yaitu kansas hehe. Jadi gue nembak cewek, lalu ceweknya ngasih syarat harus bisa stand up comedy, dan bikin puisi. Kalo semua cewek ngasih syarat gitu, mungkin setiap jam gue udah gonta-ganti cewek. Setelah menyaksikan video ekskul, pulang-pulang leher gue digorok sama pacar gue.

Yang menarik dari PLS ini, tidak ada demo ekskul. Gue mikir kalo ada demo ekskul kayak kurang efektif juga sih, kan udah ada video ekskul, udah gitu panas-panasan di lapangan. Demo ekskul diganti jadi sosialisasi ekskul. Setiap ketua ekskul ngejelasin ekskulnya di kelas-kelas, jadi anak-anak bisa bertanya langsung sama ketuanya.

Habis itu pulang. Kada ada tim TDK. penonton kecewa.

Besoknya, hari kedua. Mereka senam pagi bersama instruktur senam di lapangan. Habis itu persiapan atraksi RW. (satu RW terdiri dari 4 kelompok. jadi ada 3 RW0 RW gue menampilkan drama korea dengan pemeran utama dari kelompok gue yaitu Tulus namanya. Namanya sih Tulus, tapi dari tampangnya kayak nggak ikhlas hidup.

Trus seminar dan ada tim kedisiplinan. Nah ini yang ditunggu-tunggu. Pas lagi free time, kami sengaja main game yang kursinya ada di depan biar kelasnya berantakan. Trus pas TDK dateng, mereka kelabakan beresin kursinya. Mampus.

Eits, ada yang salah ternyata. tim TDK dateng bersama guru untuk razia. Beda banget sama tahun lalu. Gak ada teriak-teriakan, duduk siap, meja digebuk gebuk. Yah percuma gue ngeberantakin kursi. 

Untung tim kedisiplinannya masih ada unsur tegasnya. Coba nggak ada. Masuk kelas, ketok pintu, senyam-senyum unyu dan ucapkan assalamualaikum lalu berdoa. Dilanjutkan dengan salam patriot dan gelombang patriot. pas keluar kelas, minta maap dunia akhirat dulu.

Setelah itu ada sosialisasi ekskul lagi. Trus pulang.

Di rumah, biasanya di grup PK & Koor, selalu rame ngomongin anak-anak baru yang songong. Ada tuh di kelompok sebelah, anaknya ngancem ngasih nomor kemendikbud kalo dikasih konsekuensi, dia mau ngelapor. Bucettt. Banyak tuh anak yang notesnya salah jilid spiral, salah abangnya yang sotoy. Ada juga yanak yang di toko buku, bilang "Ah sekolah ngeribetin banget sih". Eh gue bilang ye, masih ribetan tahun lalu. Yang ribet tuh kalo senior lo suruh anak baru mendamaikan konflik di timur tengah, lalu memberantas korupsi di Indonesia. Itu baru susah ! Ada juga anak dari kelompok gue, yang disuruh buat cover ulang trus bilang "Kata mama saya gapapa kak diwarnain dari luar, gak harus bikin ulang". Hettdah, emangnya emak lu panitianya. Ini gimana kalo suatu saat dia ditilang.

Polisi : maap, dek. Adek tau kesalahan kamu?
Anak : Nggak pak. Perasaan saya lengkap deh. Saya pake celana
polisi : tapi kamu gak pake helm
anak : kata mama saya gapapa gak pake helm. Asal motornya digendong.

hari terakhir. ada gebyar ekskul. Ada banyak stand eksul di sepanjang jalan. Ada yang teriak-teriak juga, joget-joget, keliling2, macem-macem. Seru pokoknya. 

Siangnya penentuan nama angkatan. setiap kelompok menyumbang nama angkatan. Kelompok gue nyumbang nama colossus. Dan WOWWWWW ANGKATAN BARU NAMANYA COLOSSUS. Gilaaaa siapa dulu PKnya. 

Setelah itu ada atraksi RW. RW 3 tampil duluan, menampilkan drama korea. sementara RW lain, Ada juga pantun, trus ada flashmob. 

Terakhir ada angket OSIS dan PK. Gue dan kak amanda gak dapet angket, yaa gapapalah. Padahal gue bisa aja menang. Coba ada angket PK terhina, gue pasti menang. Gimana gak hina, kak amanda cakep guenya enggak. Kayak kebanting gitu. 


  sehabis pengumuman angket, anak baru dikasih waktu 45 menit untuk mengumpulkan tanda tangan OSIS, TDK, & PK. Kalo OSIS kan keren ya, pertanyaan pas diminta tanda tangan itu bermutu, "Coba tebak saya sekbid berapa dan apa jabatan saya?" Lah gue sebagai PK, mentok-mentok, "Coba  kamu tebak nama bapak saya? Nama lengkap saya di nametag kan Farisan K P. P-nya itu Pratama. Kalo Kepanjangan dari K-nya apa coba ?" trus ada anak baru yang nyeletuk, "K-nya kont*l kali ka"

Trus ada upacara penutupan. akhirnya hari ini hampir selesai. Kami balik ke kelas dan dimulailah suatu drama. Jadi gue dan kak amanda pura-pura baper gitu sama anak-anak dengan banyak alasan. Dari mulai banyak yang telat, gak aktif nanya, nametag sama notes salah, ya begitulah. Karena gue anak teater *wess seenggaknya gue jadi bisa nahan ketawa lah. gue jail juga sindir-sindir "Kalo dibilangin buat ulang cover tuh ya dibuat, pake alesan kata mama saya, emangnya emak lu panitianya".

Dan gue baru tau. TERNYATA ITU ANAKNYA GURU KESISWAAN. Gue jadi awkward gitu coy wkwk. Gue juga bawa nametag panda. Jadi dari jauh-jauh hari para koor udah buat nametag berbentuk panda. Rencananya anak baru disuruh bikin nametag panda, tapi keluarlah peraturan menteri mopd dilarang buat nametag yang susah. Gak jadi deh. Pas lagi acting, gue tunjukin itu nametag panda.

"Rencananya, kalian  disuruh buat nametag ini dalam semalam, tapi gak jadi."

Trus gue nunjukin nametag pegasus yang tahun lalu, "Ini nametag pas tahun saya, susah banget. Ini baru nametag level SMA paling bagus di Bekasi. Nametag kalian mah level sekolah apaan". Anjassss sadeess.

Tapi acting kak amanda lebih bagus dari gue. Lo tau gak cewek di sinetron indosiar, yang cengeng, gara-gara suaminya selingkuh sama tante girang ? Trus tante girangnya kena hidayah, kulitnya tiba-tiba borokan. Ya semacam itulah. 

Beda dari tahun lalu, kalo tahun lalu kan pas saat itu juga dibilangin, 'sorry itu tadi cuma boongan saya ga marah hehehe'. Sekarang, kaga dikasih tau. Jadi mereka pulang dengan keadaan bersalah. Di grup kelompok, mereka semua pada minta maaf. huehehehe, akhirnya mereka percaya tadi gue marah. Mana mungkin orang kayak gue sebaper itu.

Saat mereka pulang di koridor, berjejer osis osis di samping kanan dan kiri, menyanyikan mars sekolah. This is the best part of MOPDB. seketika gue flashback. 

Gue jadi inget waktu gue jalan di koridor selepas hari terakhir. Seniornya pada nyanyi-nyanyi menyambut anak-anak baru. Rasanya gue mau nangis coy. Gue dari kabupaten, sedangkan sekolah gue di kota. Gue gak nyangka bisa masuk sekolah sebagus ini dengan seleksi yang ketat. Gue harus bersaing dengan banyak orang dari luar kota bekasi, untuk mendapatkan 17 kursi. 17 KURSI dari jalur luar kota. Setiap menit gue pantengin itu web ppdb. Gue gemeteran, passing grade naik dari tahun lalu. Gue gak aman. Gue ngeliat temen-temen gue tersingkir. Gue gak tau kalo misalkan gue tersingkir, gue daftar sekolah mana karena gue cuma punya satu tujuan. Gue belajar UN susah payah, dari yang Matematika gue gak ngerti apa-apa, sampai nilai gue bagus. Setiap hari gue belajar, sabtu minggu gue les bimbel. Kertas hvs di rumah abis gara-gara gue print soal try out dan ucun. Gue udah beli beberapa buku UN, bahkan gue sampe ngerjain buku temen. Gue kaget ketika tau temen gue yang jenius banget ranking 1 terus, yang sering gue ledekin, lagi gak beruntung, NEM-nya sedikit lebih kecil di bawah gue. Nggak kayak anak-anak dari dalam kota, yang nemnya biasa aja, tetep bisa masuk, atau pake jalur lain. Gue ngerasa perjuangan gue nggak sia-sia. Gue dapet posisi di kursi ke 15. Tuhan pasti ngasih alasan gue dikasih kesempatan belajar di sekolah ini. Perjuangan gue berhasil, dan gue akan melanjutkan perjuangan gue. Dan sekarang gue udah berhasil ngelewatin MOPDB. Melewati berbagai tekanan fisik dan mental. Capek rasanya.

Gue jadi PK bukan mau terkenal di kalangan adek kelas, atau nyari junior cakep (setelah gue perhatiin, anak kelompok gue gak ada yang cakep juga sih). Gue cuma mau ngerasain kembali apa yang dulu gue rasakan. This moment is priceless.

Yaa awalnya gue sempet kecewa sih MOS tahun ini beda banget dengan yang tahun lalu. Tapi seenggaknya, tujuan dari masing-masing orientasi tetap tercapai kan?


Saturday, June 25, 2016

Rusuh bersama bocah SD

Sekarang udah masuk bulan puasa, bulan yang penuh berkah dan ditunggu semua orang. Gue juga puasa sih. Setiap bulan puasa, sekolah gue ngadain program pesantren kilat. Jadi elu belajar ngaji, ustadnya Thor. nunjuk papan tulisnya pake palu. Untuk kelas 10, ada pesantren kilat di masjid ngedengerin materi-materi gitu. Sedangkan untuk kelas 11, mereka dikirim ke berbagai SD negeri untuk mengajar agama. Tapi ada beberapa kelas 10 yang ngajar.

Singkatnya pada suatu hari, teman gue si Anca nawarin gue, Irfan, dan Bimo ngajar di SD. Karena kami gabut di rumah dan stok indomie kosong, kita ambil job itu. Ngajar akan dimulai hari senin sampai rabu. Kami akan mengajar anak kelas 2 SD.

Rumor-rumor yang gue dengar, anak SD itu susah diatur. Bahkan ada temen gue yang diusilin. Pas lagi ngajar, tasnya dibawa keluar lapangan. Jail banget. Bahkan ada yang modus segala.

Hari pertama, kami datang ke SD x sekitar jam setengah 8. Ternyata kelas dimulai jam 8. Kami mendapat arahan dari guru di sana. "Nanti kalian akan melihat diri kalian pas masih SD. Ada yang rusuh, nangis, berantem", kata pak guru. Kayaknya dulu pas SD gue gak serusuh itu deh. Pas gue kecil, gue rusuh sama temen-temen gue. Ada sih yang nangis. Gurunya yang nangis.

Semabri menunggu gue melihat-lihat keadaan sekolah. ada satu hal yang menurut gue menarik. Di salah satu dindingnya, ada gambar 2 anak lagi main sepak bola. ada seorang anak yang sedang menggiring bola mengenakan baju bertuliskan SD Y dan seorang lagi sedang berlari mengenakan baju bertuliskan SD Y. Di pojok kiri atas ada skor : 

SD X vs SD Y
 10    -    0

Lo bayangin perasaan anak anak SD Y digibahin anak SD X, coy. Coba kalo anak-anak SD Y ngeliat gambar ini. Mungkin kedua sekolah musuh bebuyutan kali ya, ibarat the jak dan viking. Nanti mereka tawuran, cuma gara-gara gambar ini. Anak SD tawuran pake tempat pensil cars, di lilit pake tali tambang pramuka. Bukan ngelempar batu, tapi ngelempar Beyblade dan bakugan. Lagipula skornya terlalu berlebihan, skornya 10. pemain bola professional aja kalah sama anak SD. Gue yakin Messi kalo liat gambar ini, langsung beralih profesi jadi dagang crepes. Jangan-jangan di SD Y ada gambar gini juga tapi skornya terbalik 

SD X vs SD Y
  0     -     10 

Bel berbunyi, kami masuk ke kelas yang sudah diatur. Gue masuk kelas 2C. Pas gue masuk, nauzubilahimin zalik. Isinya cowo semua. Batang semua. Mampus gue. Dari awal gue masuk pintu sampe berdiri di depan kelas, gue gak bisa berhenti ketawa. 

Gue bilang, "Kita berdoa dulu ya, coba mana ketua kelasnya ?"

Trus ada anak yang gendut angkat tangan. "Kamu sini ke depan kelas, pimpin doa", suruh gue. Itu bocah kayak ketakutan malu-malu kucing, "gamau gamau ah". Lalu apa yang terjadi ? DIPUKULIN AMA KEDUA TEMENNYA !. Yang satu ngeledek, "Ehh maju lo cemen banget sih". Temennya bertugas untuk mukulin perutnya. Sumpah kasian banget. Dengan terpaksa, ketua kelas ini maju dan memimpin doa.

Selanjutnya kami memperkenalkan diri dan mengajar materi tentang huruf hijaiyah. Mereka gue suruh nyebutin huruf hijaiyah, trus ditulis di buku. Anak-anaknya aktif sih, yang bisa jawab pertanyaan dikasih hadiah buku tulis atau pulpen. gue sempat berpikir, 'Mana ah, baik-baik tuh gak rusuh seperti yang dibilangin'. 

Ternyata dugaan gue salah. Itu baru di menit-menit awal. Satu jam kemudian. Suasana berubah total. Awal-awalnya sih anteng. Makin ke sini makin rusuh. Karena isinya cowo semua, jadi pada rusuh. Hampir semua anak dorong-dorongan, tendang-tendangan, masak-masakan. Mereka ini kalo jawab pertanyaan suka berisik, kami jadi bingung mau nunjuk yang mana. Bahkan ada yang gak sabar pengen pulang, udah pada pake tas aja. Trus gebrak-gebrak meja. Kami kewalahan. Guru-gurunya ampe masuk, dimarahin, "Anak-anak, jangan berisik. Suara kalian sampe kedengeran tuh sampe gerbang sekolah". 

Gue sampe ngadain game kotak pos, sampah banget. Pas awal main, pada gak ngerti cara mainnya, trus rusuh dah. Semua anak berusaha keluar dari pintu. Si Bimo ngejagain pintu pake perutnya. Anak-anak kalo mau keluar harus ngalahin Bimo. 

Ada tuh anak yang keterlaluan. Jadi ada temen gue si Ahmad yang ngajar di kelas sebelah, dia lagi main ke kelas gue. Mukanya ini rada jerawatan. Trus ada anak bisikin gue dan Bimo, "Kak, masa kakak yang itu mukanya bintik-bintik ya wkwk". Lu bayangin perasaan si Ahmad. Pulang-pulang dia langsung facial coy.

5 menit sebelum bel pulang, kami kalah. Mereka semua berhasil keluar kelas. Gila, rusuh banget. Gue gak mau ngajar di kelas itu lagi. Ternyata, kelas lain isinya cowo cewek jadi gak rusuh. Kelas samping, pada anteng, unyu-unyu, gemash. Lah kelas gue apaan anjir. Seakan-akan gurunya udah menjebak kami.

Hari kedua, kami datang lagi untuk mengajar. Semangat kami telah pudar. Gue baru parkir motor, anak-anak kemarin dengan tampang unyu pada salim ke gue. Senyumnya bahagia seakan-akan berkata, 'yes korbannya yang kemaren lagi'.

Saat masuk kelas, kami kaget, semuanya pada gelayutan udah kayak monyet. Pas gue cek, Ternyata itu emang kandang monyet, ohh kami salah masuk. (jayus dah). 

Trus kami masuk ke kelas sebenernya. Pas masuk, Ada yang nangis coy. Kita samperin kan, ternyata anak ini pengen pulang. Lah belajar ae belom lu udah pengen pulang aje. Sono kalo mau pulang angkutin semen dulu ke truk. Nangisnya sesenggukan. Air matanya dikeluarin 97,5 %. Kenapa gak 100 % ? Karena yang 2,5 % dizakatin untuk fakir miskin. lalu seperti biasa kami berdoa terlebih dahulu. Tapi ada yang berbeda. Supaya mereka gak cepet-cepet mau pulang, kami suruh mereka semua ngumpulin tasnya ke depan kelas. Barang siapa yang pegang tas, nanti gak boleh pulang.

Ahahaha, aturan ini berhasil. Hari itu kami mengajar tentang rukun iman dan rukun islam. Semuanya disuruh nulis, trus dikumpulin. Abis itu kita kasih kuis. Kedengerannya sih asik. Tapi setelah satu jam pertama, sifat-sifatnya keluar lagi. kelas udah gak kondusif, pada berantem. Banyak yang kabur-kaburan keluar kelas lah. Untungnya si Irfan sudah nyiapin film di laptop. Film nabi gitu.

Mereka pada nonton, trus ngatain, "Ah ini mah boongan. Gue kira asli." Si Irfan mukanya bete kayak 'Nonton tinggal nonton lu'. Anak yang gak nonton film, keluyuran keluar kelas.

Mereka ingin digendong kak Bimo

 Mereka memberontak guys. Ada tuh yang gendut kerjanya provokator, "Film horror aja ka". Halah kek berani aja. Trus kami ganti film jadi film Boruto. Mereka tetep gak tenang. Kita jadinya main benteng. Mejanya dipinggirin, trus mereka main-main gak jelas. Banyak banget yang berantem, ini kelas apa ring smekdon. Banyak juga anak-anak yang naik ke meja, lompat-lompatan kayak ninja warrior. Lalu penjaga sekolah jalan lewat jendela luar, bapaknya diem mematung di depan jendela kelas, dia cengok ngeliat kelas udah kayak kapal pecah. Mungkin hatinya berbisik, 'selama 10 tahun gue kerja, baru kali ini ngeliat kelas ancur'.

Gara-gara banyak yang keluar kelas, lo bayangin, gagang pintunya ampe copot. Ini baru dua hari gagang pintu copot. Gimana sebulan. Mungkin keramiknya retak, atepnya jebol, uttaran tamat, dll.

Tapi berkat gagang pintu patah, mereka jadi gak bisa buka pintu. Yang bisa cuma kami, gue irfan dan bimo. Ngebukanya itu harus pake tenaga, mereka kan gak ada tenaganya. Banyak dari mereka yang nyoba buka, tapi gak bisa. Ahahaha kalian terkurung di sini. Mereka naik meja, trus melongok di jendela sambil teriak minta tolong. Berasa di penjara.

Gara-gara pintunya ketutup, itu kelas jadi panas macem neraka. Anak-anak pada kegerahan, pada buka baju, kaos kutangnya kemana-mana. Mereka sampe cium-ciuman ketek.

Gue baru inget, si Irfan ulang tahun. Anak-anak pada meluk Irfan dan ngucapin lagu selamat ulang tahun. Owhhh so sweet. Abis dipeluk, kaki si Irfan diseret-seret, dipukul-pukulin, digendong segala macem. Ada salah satu anak yang memberi Irfan pantun.

"Kak, mau denger pantun gak?"
"Iya mau."
"Ikan hiu makan permen. Fuck you man"

WHAT THE HELL. Gue gak nyangka anak kelas 2 SD udah bisa ngomong gitu. Ini bocah belajar dari mana anjir. Ikan hiu mana, yang doyan permen !!! Kenapa harus hiu gitu. Apakah hiu ini bosan memakan manusia, dan memulai menjadi vegetarian? Atau mungkin hiu ini salah pergaulan?

Sepuluh menit sebelum bel pulang, kami kalah lagi. Si Ahmad tiba-tiba buka pintu dari luar, trus anak-anak pada kabur. Yahhhh. Sebelum pulang, kami ngumpul dulu bersama guru-guru SD. Temen-temen pada cerita seberapa lucu anak-anaknya. Ada yang minta fotolah, tanda tangan. Lah kelas gue apaan.

Kepala sekolahnya bilang, "Gimana? asik kan ngajarnya? Mau gak ngajar 2 minggu sampe tanggal 25?". hehe nggak bu makasih hehehehehe.

Hari ketiga dimulai. Semangat ngajarpun nggak ada. Kita gak tau mau ngajar apa karena mereka udah pada susah diatur. Kami sempat berpikir akan masuk kelas, lalu teriak "YAK KELAS AKAN DIMULAI. PEDANG DI KANAN, TOMBAK DI KIRI. SILAKAN BERPERANG !". Pintunya kami tutup dari luar, membiarkan mereka bertarung menunjukkan kejantanannya seperti film the hunger games. Setiap jam sekali kami akan memberikan kantong mayat lewat ventilasi. dengan harga Rp. 200 perak.

Lagi nonton
 
Dimarahin ka Irfan gara-gara loncat loncat di meja

Malam sebelumnya gue tanya sama temen gue, "Gimana sih supaya ngebuat anak-anak anteng?".

Dengan santai teman gue menjawab, "Lo bilang 'duduk siap' aja. Nanti tuh mereka bilang hap trus duduk rapih tangannya disilangkan ke meja. BUSET, kenapa pake hap segala udah kek bang Ipul. Untung pas hap langsung duduk rapih, bukan langsung ngisep. Untung gue bilang 'duduk siap'-nya cuma sekali. Coba banyak malah jadi konyol.

"DUDUK SIAP DUDUK SIAP DUDUK SIAP !!!"
"HAP HAP HAP maap pak saya khilap. Jadi pas dia tidur, saya jail, Saya buka aja celananya trus saya hap"


Konyol banget, waktu masuk kelas, si Irfan jail bilang duduk siap 3 kali. Mereka ngikutin hap hap hap tapi gak pake lanjutan kaya tadi wkwk. Oke sekarang aku bisa menjinakkan kalian.

Karena kami males ngajar dan pasti akan rusuh, kami punya ide. Kemarin kami suruh mereka bawa crayon atau pensil warna jadi hari ini mereka bisa anteng mewarnai kaligrafi. Kami membagikan gambar kaligrafi dan menyuruh mereka mewarnai sesuka hai. Kelas jadi kondusif. Ternyata menjinakkan kalian begini caranya.

Saat mereka mewarnai, gue tanya sama anak yang kemarin ngasih pantun ikan hiu makan permen, "Kamu belajar dari mana pantun itu?"

"Dari tukang siomay, kak". Dia menjawab dengan polos.
"Emang fuck you men itu apa sih?" Tanya gue
"Gak tau"

Pantesan aja. Ini abang-abang suka meracuni anak kecil. Jangan-jangan siomaynya pake daging hiu. Miris emang ngeliat anak-anak sekarang yang gak tau apa-apa niru kelakuan yag salah. Ini baru satu kasus aja yang ketauan, gimana di luar sana yang lebih kejam. Ada berapa anak-anak yang diajarin ngerokok, atau bahkan ngelem. Orang tua harus lebih waspada membimbing anaknya agar bergaulnya gak sama sembarang orang. (Alah ngomong apa si gue.) (Sengaja. Biar blog ini ada manfaatnya).

 
Gue ampe naik meja cos mereka klo difoto gak bisa rapih

Lalu gue juga iseng nanya ke salah satu anak, "Dek, tau raisa gak?"
"Hah? raisa? Anak kelas berapa tuh?" Buset, perasaan tipi udah masuk bekasi dah.
"Itu ada anak kelas 3A, anaknya baik, cantik, jago nyanyi lagi"

Selesai mewarnai anak-anak ini pada ribut. Ada seorang guru masuk kelas ngasih Irfan kertas ulangan tebel banget, Irfan ngebagiin deh. Selagi dia ngebagiin, tiba-tiba ada bocah yang nangis. Gue tanya kenapa nangis.

"huu... hu...... Itu dia ngatain bapa saya kak. Katanya bapak saya dagang cilok, padahal kan bapak saya dagang siomay". Seraya menunjuk anak lain

Gue ngomong. "Wah ternyata bapak kamu ya yang suka nyebarin pantun ikan hiu makan permen. AYO KITA GEBUKIN WOI !!". Trus anak itu kita gebukin ampe bapaknya dateng.

Becanda........

"Yeu apaan orang lo nangis sendiri", kata si anak yang ditunjuk. Anak-anak lain pun meledek dia cengeng. Gue ceramahin aja (asekk) "Kalian gak boleh nangisin orang. Nanti tuh di akhirat kalian bisa aja masuk neraka gara-gara pernah nangisin dia".

Trus ada anak yang nimbrung "Wah iya kak. Kalo sakit fisik kan bisa kita obatin tapi kalo sakit hati sulit disembuhin". Anjayyyy, keren keren.

Di menit terakhir tuh gue sok-sokan baper gitu. Gue bilang "Ini hari terakhir saya ada di kelas kalian. Kalian pasti senang gak ketemu kami lagi. asal kalian tau, kami tuh capek ngajar kalian. Kalian knapa sih susah diatur, pada bandel, suka keluar kelas. Guru kalian tuh bilang ke saya katanya kelas ini pada bandel. Saya aja baru 3 hari udah capek, suara saya sampe abis, apalagi guru kalian yang udah ngajar satu tahun"

Responnya beda-beda. Ada yang bengong, sedih, ada juga yang ngehe pura-pura nangis tai. Lalu kami membagikan secarik kertas untuk mereka isi permintaan maaf untuk gurunya. Bahkan sampe kami diktein apa yang harus mereka tulis. Trus dikumpulin dan kami kasih ke guru mereka. Lalu mereka pulang. Akhirnya selesai juga......

Sebelum pulang seperti biasa kami ngobrol dulu dengan guru-gurunya. Gurunya baik banget, kita semua sampe dikasih duit, banyak banget deh, basa basi gitulah "Ini ada uang sedikit buat beli permen, hehe". Pas diliat isinya banyak. Gue sih gak mau nyebutin nominalnya berapa, kan kalo gue bilang 700 ribu nanti dikira sombong. Pertanyaannya adalah, Permen mana yang harganya sampe ratusan ribu ? Pil ekstasi ? Kan nanti basa basinya jadi beda. bu gurunya bilang, 'Ini ada uang sedikit buat beli narkoba, ngefly gwa anjeng'

Gue tuh sempat berpikir jadi guru itu susah, apalagi kalo anaknya bandel, susah diatur kaya yang gue alamin. Bagaimana dulu gue saat kelas 2 SD. apakah sama seperti mereka? Jadi guru itu harus sabar. Harus mendidik anak muridnya dengan penuh perhatian. Muridnya pun gak semuanya nurut, bahkan ada yang nyolot. Gue sempet liat sih ada berita guru dipenjara gara-gara nyubit  ̶j̶e̶r̶a̶w̶a̶t̶  muridnya. Padahalkan guru itu bertugas mendidik, kalo anaknya terlalu manja, gak bakalan dapet ilmunya. Kalau gak mau diajarin yang bener jangan sekolah. Pokoknya kita harus menghargai guru kita. Karena kesuksesan kita juga tergantung dari guru kita bukan?



Ikan hiu makan permen
Sekian dari gue men