Saturday, December 3, 2016

Puisi Laknat

Hai guys sorry banget nih gue baru muncul lagi untuk nulis blog gue. Setelah 5 bulan gue gak ngepost, blog gue udah kayak kuburan. Pas gue login, banyak sarang laba-laba. Pas gue ngeklik entry baru, ada kuntilanak lagi nembok. Dan pas gue ngetik, ada jones yang hatinya terluka. Pas gue liat, ternyata jones itu gue sendiri~

Jadi gue baru aja ditunjuk jadi ketua ekskul sastra muehehehe (Bangga), nama ekskulnya adalah kansas yaitu kantin sastra. Gue gak tau kenapa gue bisa terpilih, padahal kemampuan gue di bidang sastra masih 0. Apa coba yang gue bisa ? Bikin puisi ? Salah satu puisi yang gue bisa buat bersama teman adalah puisi berjudul aku

Aku

Karya ibu dan bapakku.

Bikin cerpen? Lo gak inget, waktu SMP gue pernah nulis cerpen dengan tokoh teman gue yang namanya Raihan, lalu tokoh itu adalah tokoh gelandangan, dan si Raihan marah ?

Terserah kenapa kakak-kakak-baik-hati bisa memilih gue, yang jelas gue harus mengemban amanah yang diberikan untuk memajukan ekskul ini. Hal yang paling mengganggu gue adalah omongan dari salah satu guru gue.

Saat itu kami sedang belajar. Pak guru ini sering bercerita tentang keadaan sekolah, tentang anak-anak, ekskul, dan lain-lain. Suatu ketika, pak guru bertanya, "Anak-anak, kalian tau tidak ekskul yang semu itu apa ?"

Anak-anak pun bersorak-sorak menjawab. Ada yang menjawab ekskul 'cinta lingkungan', memasak, perangko, dll. Lalu Pak guru melanjutkan omongannya, "Jadi ekskul ini gaib. jadi kalo misalkan setiap ekskul harus kumpul di kelas, kelas itu kosong. Giliran ekskul itu dibubarkan, anggota ekskul itu tidak terima. Prokernya juga gak jelas".

Semua hening. Memikirkan ekskul apa yang dibicarakan oleh pak guru. Termasuk gue. 

Hmmm, ekskul apa yang semu? Ekskul mannequin challange ? Jadi setiap ngumpul, semua anggota diem aja mematung gitu? Gue gak ngebayangin penilaian ekskul ini. Siapa yang mirip patung beneran, dia yang menang. Saking niatnya, ada anak yang tiduran mulu kayak patung gak bangun-bangun, ternyata dia emang mati. Atau ada patung yang nunjuk mulu, kirain orang, ternyata itu patung pancoran.

Kalo ekskul gaib, apa ya? Setau gue di sekolah ini gak ekskul aliran sesat macem illuminati. Atau ekskul dunia lain. jadi Semua anak latihan jadi hantu, supaya lolos casting jadi figuran di dunia lain. Atau sekedar jaga pohon beringin, dan jadi penjaga lawang sewu. Setiap malam, dia bertugas mengunci semua pintu di lawang sewu. Saat pintu terakhir dikunci, pagi hari tiba. Lalu dia membuka semua pintu lagi ampe mampus dan pindah kerja jadi casper.

Proker gak jelas? Jadi pas liat di agenda, program kerjanya ngeblur gitu? Unik juga.

Karena semua anak tidak dapat menjawab, pak guru menjawabnya "Ekskul itu adalah........


kansas". JENG JENG !!!!!

Anak-anak pun ribut, memecah keheningan di penjuru kelas. Salah satu teman menunjuk gue, "Isan pak, dia anak kansas". Sial, gue jadi bahan tontonan. Pak guru pun memberikan pertanyaan-pertanyaan klasifikasi atas pernyataannya tadi. Gue pun membela ekskul gue.

Padahal kenyataannya gak kayak gitu coy. Mungkin pak guru melihat ekskul ini saat jaman dulu, saat anggota ekskulnya masih pithecantropus erectus yang pertama kali menemukan api, trus digunakan untuk nyebat. (ya maksud gue, nggak jaman purba juga sih). Gue nggak tahu. Mungkin tahun 90-an ekskul ini memang begini, tapi sekarang aktif kok. Emang ekskul ini jarang keliatan, gak kayak ekskul pramuka atau futsal yang latihannya outdoor. Namanya juga sastra, semua kerja di rumah coy. Gak mungkin ada ekskul sastra yang setiap kumpul, baca puisi sambil manjat wall climbing. Gak mungkin.

Sampai akhirnya gue resmi menjadi ketua pun, pak guru masih sering meledek ekskul gue.

Kemarin-kemarin, salah satu teman gue si Amin, yang merupakan anggota OSIS, mengajak gue untuk mengadakan kerja sama. Jadi dia ingin membuat perayaan hari guru yang meriah di sekolah. Nanti akan ada pemutaran video, pembacaan puisi, serta paduan suara. Dia menawarkan ekskul gue untuk membaca puisi. "Ayolah, san. Biar nama ekskul lo bagus di mata guru." Wah bisa juga dia ngejilat gue, sampe-sampe air liurnya pengen gue jadiin obat tradisional, biar gue ngalahin dukun cilik ponari. Katanya, biar ekskul gue cari muka dikit sama guru. Wah bener juga, ini ajang yang tepat untuk menunjukan pada pak guru bahwa ekskul gue dapat memberikan sesuatu untuk sekolah. Muehehehe.

Saat kumpul, gue menawarkan teman ekskul untuk membaca puisi. Terpilihlah 5 orang penyair, 3 cewek dan 2 cowok. Karena gue suka yang instan, gue copy-paste puisi guru dari internet, jadi puisinya gue gabungin, daripada buat terus jelek kan. 

H-1, kita latihan membaca puisi, Diiringi keyboard. Jujur gue gak bisa baca puisi, gue baca puisi itu semampu gue walaupun hasilnya bisa gak dibilang bagus atau jelek, ya standar lah. Teman-teman yang cewe suaranya bagus, keren. Nah temen gue yang namanya tulus ini yang berbeda. Kalau lo belum tau Tulus, coba baca pos gue yang sebelumnya saat gue menjadi pendamping kelompok MOPDB. Dia baca puisi kayak anak SD yang belajar membaca, nadanya pun kocak, tampangnya ngehe lagi. Gue takut, saat baca puisi, guru-guru malah ngetawain dia. Duh gue mau ganti dia sama anggota ekskul yang lain, tapi gak enak sama dianya.

Hari guru pun tiba. Semua guru dikumpulkan di auditorium. Acara pertama diisi dengan pemutaran video dari OSIS, tentang guru di sekolah. Acara kedua, yaitu baca puisi dari ekskul gue. Kami berlima maju ke depan panggung auditorium.
Ada standing mic di depan. Kami membaca puisi satu persatu, dimulai dari gue. Suara gue masih malu-malu, irama nada pun masih biasa aja. Tapi gue berhasil. Lalu yang kedua, si Anay. Dia membaca puisi dengan lumayan bagus. Nahh yang ketiga, si Tulus. Jangan bandingkan dengan Tulus di TV, yang suaranya bagus. Si tulus kita ini persis membaca puisi seperti saat latihan. Lantas guru pun sedikit heboh, membicarakan anak ini. Anak-anak pun ingin tertawa, namun ditahan karena banyak guru. Untungnya orang keempat dan kelima membacakan puisi dengan bagus. Jadi grafiknya tuh naik, trus turun jeblok, lalu naik lagi lebih tinggi. Mungkin panitia SBMPTN pas ngeliat grafik ini, langsung dikencingin, tapi gapapalah. Yang penting akhirnya bagus.

Nah, pas detik terakhir orang ke-5 membaca puisi. Ada kesalahan yang sangat fatal. Larik tersebut bertuliskan.



'Hanya ucapan terakhir dari mulutku
Di hari pendidikan nasional ini
Gempitakanlah selalu jiwamu
wahai pejuang pendidikan Indonesia'

semula gue nggak ngeh. Saat dibacakan, ada guru yang menyadari dan bersorak "Hari guru, bukan hari pendidikan nasional" (btw ini guru atau penonton dangdut ampe sorak-sorak) KADAL BUNTING, GUE BARU NYADAR. Sebagai penyair palsu, gue baru sadar ternyata yang tertulis di naskah bukan hari guru tapi hari pendidikan nasional. Kami semua malu. 

Ini adalah kesalahan kami.
1. Gue asal copy-paste, dan gak memerhatikan.
2. Salah temen gue yang ke-5, karena ini bagian dia, harusnya dia menyadari ada yang salah dengan puisi ini.
3. Salah kami berlima. Karena sejak latihan dan membaca berulang-ulang. GAK ADA YANG NGEH DARI 5 ORANG TERSEBUT.

Anjrit, yang semulanya gue pengin bikin guru bangga dengan ekskul gue, malah gak sesuai ekspektasi.

3 hari berlalu. Siang itu akan ada pelajaran pak guru, gue yakin 100% pasti pak guru akan meledek 2 poin kesalahan baca puisi yang kemarin. Saat pelajaran itu berlangsung, bener aja. Pak guru mengomentari. 

"San, cowok satu lagi yang baca puisi itu namanya siapa? kelas 10 yah?"
"Iya, pak. Namanya Tulus"
"Ohh haha. Pas dia baca puisi, guru-guru pada heboh. Guru samping bapak bilang 'wah ini si Tulus, bintangnya nih' haha"
"Hehe iya pak" Di sini gue gondok banget, kayak kurang iodium. 
"Bapak puisinya lucu, kayak lagi mengeja gitu. Makanya bapak mikir, ini si isan lagi mau bercanda atau gimana."
"Jadi gini, saya tuh baru tau dia baca puisinya kayak gitu pas H-1. Tadinya saya juga mau ganti pembaca, tapi gak enak sama dia"
"Hmm begitu. Harusnya kamu nunjuk beberapa orang lagi, misalnya 7 orang. Nanti diseleksi lagi, terpilih 5 orang, biar si Tulus gak merasa diusir" Pak guru memberikan saran.

Sarannya bagus juga sih. Salah gue banyak, kenapa gue asal-asalan milih orang 'siapa yang mau baca puisi'
'saya ka'
'oke kamu terpilih'

Harusnya gue lebih selektif memilih bibit unggul. Tapi udah berlalu juga, biarlah jadi pelajaran untuk gue kedepan. Setelah gue bercerita tentang kejadian ini ke temen cewek gue, dia memberi saran yang cemerlang. "Emang lo ngetik di google keywordnya apa?", tanya dia.

"Puisi untuk guru"
"Pantesan aja, kunyuk. Harusnya lebih spesifik, kayak 'puisi hari guru'... "

Tapi gue gak menyangka, pak guru gak sadar kalo puisi gue salah menjadi hari pendidikan nasional. Yaudah lah gapapa. Tuh kan, guru aja gak sadar, apalagi gue. Mungkin kalo gue pasrah sampai saat ini mendengar omongan pak guru, bisa-bisa gue memberhentikan ekskul ini, lalu gue ganti menjadi ekskul flip bottle.  

0 comments:

Post a Comment